ANALISIS DATA PENGUKURAN STUNTING KAB. MUARA ENIM TH 2019

Gambaran Kondisi Stunting di kabupaten Muara Enim selama 2 (dua) tahun terakhir 2018 dan 2019 menunjukkan bahwa terjadi penurunan prevalensi stunting dari 14,42% menjadi 6,83%. Terdapat ada 16 (enam belas) kecamatan yang mengalami penurunan pervalensi stunting yaitu SDT, SDL, Lawang Kidul, Muara Enim, Ujan Mas, Gunung Megang (pkm. Sumaja Makmur), Benakat, Belimbing, Rambang Dangku, Lubai, Lubai Ulu, rambang, Gelumbang, Muara Belida, Kelekar dan Sungai Rotan. Sedangkan ada 6 (enam) kecamatan yang mengalami kenaikan prevalensi stunting yaitu SDU, Tanjung Agung, Gunung Megang, Rambang Dangku (Pkm. Tebat Agung), Lembak, dan Belida Darat. Kecamatan yang prevalensi stunting (tahun 2019) lebih dari 20 % (target WHO) adalah Kecamatan Lembak (23,5%), Tanjung Agung (23,04%) dan Belida Darat (22,09). 


A. Faktor Determinan Yang Memerlukan Perhatian

Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi baduta, di Kabupaten Muara Enim adalah :
Partisipasi masyarakat untuk datang ke Posyandu kurang, terutama bagi balita yang sudah imunisasi lengkap tidak mau lagi ke Posyandu.
Masih ada sebagian masyarakat yang belum dapat menjangkau akses air bersih.
Masih ada sebagian masyarakat yang belum mempunyai jamban sehat.
Masih ada balita yang belum mendapat imunisasi lengkap.
Riwayat ibu hamil pada masa kehamilan yang kurang baik, kurangnya asupan gizi dan tidak terpantau kesehatannya karena tidak memeriksakan kehamilannya secara teratur.
Adanya penyakit penyerta.       

B. Perilaku Kunci RT 1000 HPK yang Masih Bermasalah

Perilaku kunci Rumah tangga 1000 HPK ysng masih bermasalah adalah :
Masih ada sebagian ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.
Masih kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang makanan dengan gizi seimbang untuk ibu hamil.
Belum semua ibu hamil minum secara rutin tablet tambah darah (TTD) selama kehamilan (90 tablet).
Masih ada ibu bersalin yang ditolong persalinannya oleh bukan tenaga kesehatan (dukun).
Budaya/kebiasaan masyarakat Bayi 0-11 bulan sudah diberikan makanan tambahan selain ASI.
Masih kurangnya pengetahuan ibu balita tentang makanan dengan gizi seimbang untuk balita.
Perilaku masyarakat tidak mau membawa anaknya ke Posyandu, setelah balita mendapat imunisasi lengkap.
   
C. Kelompok Sasaran Berisiko

Kelompok sasaran beresiko dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus stunting adalah sebagai berikut :
Masyarakat yang kurang mampu/miskin, sehingga daya beli terhadap pangan kurang.
Masyarakat mampu tapi tidak mempunyai/kurang pengetahuan tentang makanan dengan gizi seimbang.
Masyarakat yang masih memegang teguh adat kebiasaan, misalnya memberikan makanan tambahan pada bayi 0-11 bulan, sebelum 40 hari bayi tidak boleh keluar rumah.
Masyarakat yang tinggal di wilayah bantaran sungai, menggunakan air sungai  masyarakat adat terpencil, keluarga dengan ibu sebagai kepala keluarga, dll)      

Dari permasalahan tersebut diatas sehingga dalam pencegahan dan penanganan stunting perlu adanya dukungan dan partisipasi masyarakat. Dalam intervensi pencegahan dan penanganan stunting disesuaikan dengan permasalahan yang terjadi di masing-masing kecamatan.

Selengkapnya hasil analisis, silahkan klik disini

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.